Burung Beo

Burung beo merupakan salah satu jenis burung kicau peliharaan yang memiliki keunikan tersendiri. Selain warna bulu yang mempesona dan menarik, juga memiliki keahlian dalam meniru bunyi atau suara. Keahlian inilah yang membuat burung beo membuat banyak orang gemas, terlebih saat meniru suara pemilik atau orang-orang yang disekitarnya.

Akan tetapi, pernahkah mendengar istilah mem-Beo?

Orang tua saat memiliki seorang anak balita,pastinya sangat senang bermain bersamanya terlebih melihat tingkah lucu yang dibuatnya. Tak jarang pula orang tua sengaja mulai membunyikan sesuati atau menyebutkan sesuatu untuk memancing perhatian anak balitanya. Termasuk mengajarkan untuk mulai meniru setiap apa yang disebutkan orang tuanya. Secara perlahan anak balitanya akan mulai meniru suara atau menyebutkan sesuatu yang diucap orang tua, tingkah ini pun membuat anak semakin menggemaskan. Selain itu juga anak yang cepat merespon bunyi, suara dan mengikuti serta meniru hal tersebut, maka anak tersebut dapat dkatakan anak yang cerdas dan mudah belajar. 

Akan tetapi, jangan sampai kebablasan. Mengapa demikian? Perlu diingat bahwa anak saat masih balita cenderung sebagai peniru. Orang tua yang kebablasan dalam hal ini membuat anak seiring pertumbuhan dan perkembangannya menjadi lebih sering mengikuti dan meniru setiap perkataan orang tuanya, sering disebut juga mem-beo. Parahnya lagi, terkadang perilaku orang tuanya pun terekam dengan baik dan dapat dilakukan atau ditiru pula oleh anaknya. Tujuan  orang tua memang baik, dimana agar anak menjadi penurut terhadap orang tuanya, dapat diatur, dll. Namun, sangat disayangkan banyak orang tua yang tidak atau belum memahami cara/metode/teknik mendelivery tujuan tersebut, sehingga perilaku yang tidak seharusnya/tidak sewajarnya dapat terekam pula oleh anak. Alih-alih tujuan yang dimaksud tersampaikan, melainkan dapat menjebak anak hingga menjerumuskan ke prilaku yang tidak baik.

Pernah terfikirkah bagaimana anak mem-beo ini ketika beranjak dewasa?

Ini yang harus diwaspadai bersama. Anak yang cenderung mem-beo sejak kecil, dewasanya akan terus bergantung pada orang tuanya. Bahkan akan sulit bertanggung jawab atas dirinya sendiri, karena semua akan dikembalikan ke orang tua. Pernah tau tidak sejauh ini terutama diperdesaan, apa jawaban anak-anak ketika ditanyakan mimpi dan cita-citanya? Dalam kelompok anak perempuan yang pernah ditemui sebanyak 15 orang dan ditanyakan tentang mimpi dan cita-cita, jawaban mereka seragam semua yaitu “membahagiakan orang tua”. Sungguh mulia mimpi mereka, untuk terus membahagiakan kedua orang tua. Anak siapa yang tidak ingin membahagian orang tuanya, semua anak pasti mengharapkan hal tersebut. Tetapi saat dilontarkan kembali sebuah pertanyaan “bagaimana kira-kira caranya membahagiakan kedua orang tua?”. Jawaban mereka cukup beragam yaitu “tidak tahu” dan “mengikuti semua apa yang disuruh”. 

Mendengar jawaban seperti itu, kiranya apa yang terfikirkan? Bagaimana dengan anak-anak dilingkuang yang lain? Apakah jawaban seperti ini hanya ada pada anak perdesaan?

Semuanya akan tergantung kepada orang tua, akan dikembalikan ke orang tua. Termasuk masa depan mereka? Bagaimana anak dapat membuat keputusan sendiri untuk menentukan masa depannya? Jangan-jangan dalam menentukan temapt sekolah saja harus sesuai keinginan orang tua? Bahkan menentukan cita-cita, menjadi apa juga harus dari orang tua? Lalu bagaimana juga dengan kreativitas anak, apakah akan muncul dari orang tua? Kalaupun sakit juga apakah harus dengan rekomendasi dan rujukan orang tua, bagaimana jika dalam keadaan darurat? Menentukan kapan, dengan siapa akan menikah, dan keinginan memiliki keturunan berapanya juga harus dari orang tukah? Demi terwujudnya mimpi membahagiakan kedua orang tua.

Kalua semua anak seperi ini dalam berfikir akan masa depan, apa yang akan terjadi. Terlebih pada anak perempuan. Bukankah yang kita ketahui bersama bahwa di era modern ini ruang gerak perempuan masih terbatas? Maka bagaimana anak perempuan kedepannya? Apakah akan dibiarkan terus seperti itu? Entahlah….

Tidak hanya anak perempuan saja yang memiliki cara pandang dan berfikir seperti itu, laki-laki juga demikian. Terutama yang tumbuh dalam lingkungan dengan pengawasan orang tua yang sangat ketat dan harus mem-beo (umumnya pada keluarga yang sangat patriarki). Anak-anak akan terbatas cara pandangnya akan masa depan. Bahkan wawasannya pun akan terbatas. Bukan mencari siapa yang salah. Akan tetapi hal ini harus diluruskan antara maksud orang tua dalam mendidik anak dengan apa yang ditangkap oleh anak yang terdidik. Pola komunikasi antara orang tua harus terbangun dengan baik, harus komunikasi 2 arah. Serta pemahaman orang tua akan hak-hak anak serta kebutuhan anak. Sehingga dalam pemenuhan hak anak dapat tersampaiakan dengan baik dan tujuannya terserap dengan baik pula.

Anak bukanlah seekor burung beo, yang selalu dalam sangakar beton dengan keahlian peniru ulung atas perintah tuannya. Anak memiliki hak untuk hidup, berkembang, berpartisipasi, mendapat akses pendidikan, mendapat akses kesehatan, berkreativitas, mendapat perlindungan. Melindungi anak bukan berarti membatasi perkembangan, partisipasi, kretivitas, mendapat pendidikan, mendapat layanan kesehatan. Anak memiliki akal dan fikiran, maka bangunlah akal dan pikiran tersebut dalam hal positif untuk menunjang masa depannya yang bertanggung jawab. Rangsang kreativitas mereka dan berikan ruang untuk menyalurkan kreativitasnya. Libatkan dalam partisifasi yang bermakna, maka tingkatkan kapasitas anak dalam wawasan berfikir, pengetahuan. Libatkan secara bermakna sesuai kapasitas yang dimiliki, bukan berarti pelibatan dengan memberi ruang berpartisipasi untuk menjadi sewenang-wenang sehingga melupakan etika. Bukan mencari siapa yang salah. Akan tetapi alangkah baiknya saling memahami akan hak, terutama hak-hak anak dengan pola komunikasi yang baik dan komprehensif. Guna menciptakan generasi penerus yang handal dan bertanggung jawab.

Iklan

Persalinan Kami

Alhamdulillahi sukur……

Sayang KITA berhasil

Berurai air mata di iringi tangis pertama seorang bayi, sangat santer ku dengar kata-kata diatas terucap dari istri ku yang telah melahirkan saat itu. Ku peluk dan ku kecup keningnya dengan penuh rasa syukur dan bahagia tak terhingga. Bayi kami terlahir dengan selamat dan sehat, begitupun dengan istri ku yang tampak riang dan tak terlihat sedikitpun di raut wajahnya yang menunjukkan rasa lelah dan kesakitan. Istriku begitu bahagia telah berhasil melewati pass perjuangan menjadi seorang ibu dengan melahirkan pertama secara normal.

Aku tak dapat menahan rasa bahagia dan haru. Tangisan pertama bayi kami begitu kencang dan bersemangat menunjukkan dengan tegas bahwa saat itu aku resmi menjadi seorang ayah dan ibu untuk istri ku. Begitu besar kuasa.NYA telah memberikan kami sebuah amanah. Kedua kalinya air mata ku tumpah saat mendengar seruan bahagia dari istriku. Seruannya itu membuat ku sangat tersentuh hingga tak kuasa ku bendung air mata. Terulang dan terus terulang kata terimakasih diiringi kata KITA dan KITA, tak pernah ku dengar kata lain selain KITA. KITA berhasil sayang, KITA bisa melahirkan dengan selamat begitu pula dengan anak KITA terlahir selamat.

Kebanggaan yang begitu besar dirasakan istriku dapat melahirkan secara normal. Melahirkan pertama kalinya pada anak pertama pula. kebanggaan pula bagi aku sendiri karena turut serta saat proses persalinan berlangsung. Oleh karenanya istriku selalu menyebutkan bahwa KITA berhasil. Alhamdulillah, istriku tidak merasa sendiri saat merasakan sakitnya proses persalinan pertama kalinya. Ia merasa saat itu bahwa bukan dia sendiri merasakan tetapi rasa itu dirasakan oleh kami berdua. Dan aku pun kini telah merasakan bagaimana perjuangan seorang perempuan untuk menjadi seorang ibu, baik selama mengandung hingga persalinan. Aku pun turut merasakan bersama istri ku. 

Aku tak menyangka bahwa akau akan terus mendampingi istriku saat persalinan. Umumnya semua laki-laki (suami) hanya menghantarkan istri hingga ruang persalinan dan ia hanya berada di depan pintu persalinan. Aku mencoba untuk menjadi laki-laki baru yang tidak hanya berada di depan pintu ruang persalinan melainkan berada di balik pintu persalinan hingga di tempat persalinan. Awalnya, 2 bidan yang membantu persalinan istriku keberatan dan risih melihat ku yang selalu mendampingi istriku hingga tempat persalinan. Aku tidak memperdulikan siulan kedua bidan tersebut, aku dan istri saling berhadapan untuk saling menguatkan satu sama lain. Di pikiranku hanya satu yaitu istriku sangat membutuhkan ku saat ini, demi kelancaran dan keselamatan persalinannya. Kami telah berbuat untuk sampai ke titik ini, dan aku tidak bisa hanya membiarkan ia seorang merasakan sakit, perjuangan hidup dan mati saat persalinan.

Alhamdulillah, dengan semangat kami berdua proses persalinan berjalan dengan lancar dan cepat untuk kelahiran pertama. Kedua bidan pun berdecak kagum melihat semangat kami yang sangat membantu proses persalinan tersebut. Terlebih melihat kondisi istriku yang tampak tetap segar bugar pasca bayi lahir. 

Aku tak dapat berkata lebih. Aku dapat merasakan perjuangan seorang ibu dari proses mengandung hingga melahirkan. Bahkan saat pertama kali mengurus bayi dalam kondisi istri belum pulih total. Sungguh, kerjasama dan pembagian peran sangat amat dibutuhkan demi memenuhi kebutuhan bayi. 

Aku berharap, para suami di manapun dapat turut serta dalam proses mengandung sampai melahirkan. Jangan hanya menikmati proses reproduksi semata. Bereproduksi tidak dapat dilakukan seorang diri, begitupun proses persalinannya. Agar kita (laki-laki) merasakan perjuangan perempuan dan dapat memperlakukan perempuan sebaik mungkin.

Terus, 28 July 2017

Harta Warisan

Siapa yang tidak tau ataupun tidak mau tau tentang warisan dari orang tua nya? Aku rasa semua orang akan memikirkan ini dalam perjalanan hidupnya, yang kebanyakan dinyatakan sebagai aset masa depan. Tapi pernah taukah, apa saja harta warisan yang diperoleh selaku seorang anak? Atau hanya mengetahui warisan itu harta berupa aset dan materi (fisik)? Apakah yakin hanya sebatas itu yang menjadi harta warisan dari orang tua?

Perjalanan ku beberapa hari ini menghantarkan ku berjumpa dengan orang-orang hebat dan baru. Belajar banyak hal baru sebagai seorang laki-laki, yang nantinya akan tetap melekat pada diri ku saat menjadi seorang ayah. Termasuk pandangan tentang harta warisan, yang harus dari sekarang sangat penting bagi laki-laki untuk di persiapkan dengan baik dari sekarang, terlebih untuk ku yang dalam hitungan hari akan menjadi seorang ayah.

“Mas, sebagai calon bapak muda harus mulai jujur pada diri sendiri mengenai perbuatan tidak baik yang pernah dilakukan atau yang masih dilakukan sampai sekarang. Harus jujur dulu tentang itu ya mas. Terutama emosi, anak muda kan masih sangat tempramental, mudah marah, berkata kasar, sedikit-sedikit ngebentak. Ini harus mulai di siasati dari sekarang, karena nanti saat mas sudah punya anak dan belum bisa mengendalikan itu dan dilihat sama anak maka anak pasti akan menirunya nanti. Karena anak itu peniru mas, buat anak nyaman aja dalam keluarga” (Edwin, supir grab).

Tak pernah ku menduga akan ada pembicaraan semacam ini. Hanya di mulai dengan pertanyaan pak Edwin yang menanyakan status ku “mas ini masih bujang ya?”. Awalnya akau menganggap ini semata sebuah pertanyaan untuk sekedar say hay untuk bertutur sapa. Namun, di balik pertanyaan itu aku mendapat sebongkah berlian untuk keluarga ku kedepan. Pak Edwin, sejatinya hanya bercerita tetapi itu hal penting bagi ku dan semua laki-laki untuk bekal menjadi seorang ayah. Sehingga aku pun tertegun dan memakai dalam dari perbincangan tersebut.

Sebelum bertemu dengan pak Edwin, aku mendapatkan materi tentang Relasi Positif tentang Pola Komunikasi. Dijelaskan bahwa pola komunikasi dalam keluarga akan mempengaruhi anak hingga nanti mereka berkeluarga. Karena secara tidak sadar, dibawah alam sadarnya mereka akan meniru atau melakukan hal yang sama seperti yang dialami dalam keluarganya. Tidak heran jika orang tua yang keras dan sering melakukan kekerasan di dalam keluarganya, anaknya pun nanti akan melakukan hal yang serupa di keluarganya sendiri. Contoh, orang tua yang bercerai, dapat dipastikan anak-anak nya nanti pasti ada yang bercerai juga.

Merefleksikan ini kedalam cerita pak Edwin membuat ku semakin tertegun. Mengingat perilaku ku saat ini ternyata benar sama persis seperti apa yang orang tua ku lakukan sejak dulu. Dan ini menyadarkan ku bahwa pola tersebut ternyata telah terwariskan pada ku saat ini. Aku pun mulai merasa tidak nyaman akan warisan tersebut. Karena bagaimana pun membangun keluarga itu harus harmonis bukan harus kekerasan ataupun melakukan kekerasan agar terbangun keharmonisan.

“Mas, bagaimanapun isteri itu tetap manusia jadi tidak ada bedanya dengan kita yang jadi suami. Saya sudah merasakan mas, bagaimanapun tetap suami istri lah yang tau luar dalam nya kita. Jangan pernah menganggap isteri itu tidak bekerja ya, tapi jika memang mau bekerja di luar jangan dilarang juga. Karena mengurus rumah tangga itu sudah bekerja bagi saya. Saya merasakan saat isteri sakit, sampai sekarang istri saya belum bisa berjalan karena patah tulang. 7 bulan ini ya saya yang mengurus isteri saya, dari buang air di tempat tidur, mandi, makan dll. Saya merasakan semua pekerjaannya, ditambah lagi dengan saya yang harus tetap bekerja dan urus anak juga yang masih SD. Saya tidak bisa membayangkan mas, jika bukan saya yang mengurus isteri saya saat sakit ini. Jadi mas, komunikasi kan dengan baik apapun agar terbangun saling percaya, sehingga tidak ada yang harus menang kecuali menang bersama”.

Isteri itu manusia maka perlakuan kita pun tidak dibedakan. Hal ini benar-benar menampar diri ku pribadi.  Dan memang benar dalam kesharian banyak kita melihat bahwa seorang suami memperlakukan isteri tidak sewajarnya. Contoh kecil yang di sampaikan pak Edwin “mas banyak saya lihat suami yang menjatuhkan buang belanja ke isteri nya, jadi setiap hari di berikan uang belanja. Itu menurut saya, dia tidak percaya sama isterinya”.

Banyak cara orang untuk mendidik, membina isteri/anak agar terjalin rasa keharmonisan. Tujuan nya memang baik, nilai yang ditanamkan pun baik tetapi jika cara mengekspresikan tujuan tersebut keliru maka tujuan dan nilai yang tertanamkan akan berbeda. Misalnya, ada seorang ayah yang mendidik anaknya agar rajin belajar dan berprestasi, tetapi cara nya menyampaikan itu dengan kekerasan dimana jika telat belajar di pukul, nilainya tidak baik langsung dikatakan anak bodoh. Jika ini terus terjadi apakah anak nya akan mengerti maksud bapaknya demikian? Bisa jadi anak menjadi takut kepada bapaknya dan ini akan tertanam terus menerus. 

Mungkin dari kita juga sering mendengar ketika seseorang melakukan tindakan kekerasan, sebagian besar menyatakan bahwa mereka khilaf melakukan nya. Pada dasarnya perlu diketahui bersama bahwa tidak ada perilaku yang dilakukan tanpa disadari. Dan ini yang harus dipahami bersama terutama sebagai laki-laki yang nitabenenya sebagai pelaku kekerasan terbanyak. Jika telah disadari ini, maka semua emosi dapat di kendalikan dengan baik. Dan lebih bijak dalam mengekspresikan emosi kemarahan. 

Aku pun tak mengingkari sejauh ini masih terbilan tempramental, belum bisa mengontrol emosi itu sendiri. Ini pun berdampak pada pola menyelesaikan masalah dalam rumah tangga atau keluarga. Dan tidak ditutupi bahwa perilaku bringas sebagai ekspresi kemarahan pun lebih dulu muncul. Dalam mengekspresikan marah banyak yang menyebutkan tanpa kekerasan. Padahal membentak, mengata.ngatain, berkata kasar itu termasuk dalam ranah kekerasan verbal yang dampaknya sangat berkepanjangan karena mempengaruhi psikologis korban. Bukan berarti yang dimaksud kekerasan itu hanya sebatas kekerasan fisik.

Dari sini, ku coba mempelajari banyak hal. Terutama bekal parenting sebagai seorang ayah. Dimana harus ada komunikasi yang baik di dalam keluarga, membangun kepercayaan, salung menghargai berbagi peran. Ini harus didiskusikan dengan baik dari awal antara suami isteri untuk menyiapkan lingkungan yang nyaman bagi anak kita kelak. Dan apa yang kita siapkan ini nantinya akan menjadi harta warisan yang akan didapatkan oleh anak sebagai aset membangun rumah tangga. Harapannya dengan demikian, anak nyaman, akrab bersama orang tua dan saling menghormati. Dan bagi ku, peran orang tua dalam rumah tangga adalah menemukan potensi anak dan memfasilitasi potensi tersebut sehingga ia bisa bertanggung jawab atasnya.

Jadi sebagai laki-laki bukan berarti dalam mengekspresikan emosional itu dalam bentuk kekerasan. Tidak ada salahnya lebih mendahulukan memunculkan sifat lemah lembut berkasih sayang dalam mengekspresikan segala bentuk emosional. Bukan hanya perempuan yang dapat bersifat lembut dalam berkasih sayang.

Inilah harta warisan yang tidak pernah di persiapkan oleh keluarga dalam membina rumah tangga. Oleh karenanya, apa salahnya memulai untuk mempersiapkan dari sekarang.
Menjadi Laki-laki baru untuk lebih memuliakan perempuan 😊

Sedang Bad Mood 

Penggunaan kata dan kalimat akhir.akhir ini sering membuat gagal fokus dan berdampak pada sifat emosional ku. Hal sepele pun dapat menjadi masalah besar. Pemilihan kata dalam kalimat terlebih dalam pesan singkat, mampu menyingkat makna yang tersirat. Belum lagi kondisi emosional pembacanya saat itu, siapa yang tau.

“Saat ini saya sedang bekerjasama dengan dinas terkait”

Kalimat semacam ini membuat ku hari ini terpaksa untuk bersitegang. Aku mengartikan kalimat tersebut bahwa kerjasama mereka sudah berjalan yang mana sudah dipastikan pula regulasi, bentuk, model kerjasama yang disepakati. Aku mengartikannya demikian karena menggunakan kata  sedang, yang mana telah diketahui bersama bahwa kata tersebut merupakan kata yang menunjukkan sebuah kegiatan berlangsung atau telah dimulai.  Bekerjasama menunjukkan mereka saat itu mulai bekerjasama/telah bekerjasama.

Entah aku yang keliru atau terlalu terpaku pada kata sedang tersebut, tak ku mengerti. Tetapi si pemberi kalimat mengartikan kalimat tsb menunjukkan bahwa mereka merencanakan untuk bekerjasama, yang mana belum terjalin kerjasama, masih dalam wacana.

Pikirku, jika memang itu yang dimaksud mengapa tidak menggunakan kalimat sepeti ini

“Saat ini saya memiliki rencana untuk bekerjasama dengan dinas terkait

atau

“Saat ini saya berencana untuk bekerjasama dengan dinas terkait”

Kalau menurut ku kalimat ini lebih jelas dalam menunjukkan bahwa mereka belum menjalin kerjasama. Tapi entahlah masing.masing orang memiliki gaya bahasa, menata kata, merangkai kata dengan caranya sendiri menurut interpretasi nya. Entahlah mungkin aku yang lebay, atau mungkin keadaan emosional ku saat itu masih labil.

Sudahlah.


Peran Laki-laki vs Ngidam

Melangsungkan sebuah pernikahan tidak terlepas dari komitmen untuk membangun rumah tangga dan memiliki keturunan. Dalam tahapan menyongsong berumah tangga/berkeluarga kedua pasangan resmi  memadu kasih dan cinta dalam romansa bulan madu. Berbagi rasa penuh suka cita, bertabur kebahagian dengan datangnya titipan ilahi dalam rahim, pelengkap mahligai rumah tangga. Suatu tanggung jawab yang telah Tuhan percayakan untuk mereka yang siap.

Hamil tak pernah lepas dari perempuan. Segala sesuatu tentang hamil selalu berkaitan dengan perempuan. Peran perempuan sangat amat besar dalam hal ini. Perjuangan dan pengorbanan pun sangat besar dialami perempuan. Sembilan bulan sepuluh hari lamanya akan mengandung dan perjuangan hidup dan mati saat persalinan. Itulah perempuan. Yang sampai ia menjadi ibu pun tetap dimintai pertanggung jawaban atas anak yang telah iya lahirkan. Sungguh besar jasa perempuan sebagai seorang ibu. Lalu bagimana dengan laki-laki dalam konteks kehamilan perempuan?

Banyak hal yang tak terlihat pada laki-laki saat disandingkan dengan kehamilan perempuan. Semua mata tetap fokus tertuju pada perempuan, entah melihat sebagai motivasi, empati, simpati dengan perjuangan yang dihadapi dan lain sebagainya. Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam hal ini laki-laki tidak memiliki peran apapun. Namun, walau bagaimanapun bahwa keberhasilan perempuan melewati masa kehamilannya tidak pernah terlepas dari peran laki-laki (Suami). Dialah yang paling bertanggung jawab atas keselamatan orang yang di kasihi nya, isteri dan calon anak nya. akan tetapi memang benar adanya bahwa selama ini memang tampak tidak ada peran laki-laki dalam susah payah isteri nya mengandung. Selalu tampak peran laki-laki di awal kehamilan dan saat prosesi persalinan semata. Tetapi tidak semua seperti itu. Ada banyak peran laki-laki dalam mendampingi sang perempuan dalam keberlangsungan kehamilannya selama 9 bulan 10 hari. Pendampingan ini yang tidak pernah di pandang oleh sebagian orang. Mereka terkesan lupa bahwa ada laki-laki yang menopang semangat perempuan selama kehamilan. Kasih sayang, support moral, mental hingga materi selalu di persiapkan oleh nya. dipersiapkan pula segala bentuk kebutuhan hingga keinginannya. Termasuk pada status Ngidam.

Hal yang sering luput dalam pandangan dari peran laki-laki yaitu pemenuhan tuntutan perempuan saat Ngidam. Pernah terbayangkan atau tidak seorang perempuan akan melontarkan permintaan apa saat Ngidam? Jika bisa di prediksi maka sebagai laki-laki akan prepare jauh sebelumnya, namun nyatanya tidak pernah ada yang tau kapan rasa Ngidam itu datang dana pa hal yang di Idamkan saat itu. Dalam hal ini kuat sekali paradigm masyarakat tentang pemenuhan permintaan saat ngidam. Ngidam bawaan bayi dalam kandungan dan harus dipenuhi. Sehingga muncul perspektif tentang bagaimana dampak kepada anak jikalau ngidam tidak terturuti. Pastinya di dalam bawah sadar laki-laki pun takut akan hal tersebut terjadi pada anak nya nanti ketika lahir, alhasil segala upaya oun dilakukan untuk pemenuhan itu.

Bagi para perempuan yang telah hamil dan memiliki anak, dapat disebutkan apa saja permintaan saat hamil?

Banyak pula spekulasi yang menyebutkan bahwa Ngidam ini dapat dibuat-buat untuk menguji para laki-laki atau entah apalah. Karena begitu banyaknya permintaan dan dalam waktu yang tidak masuk akal pula. Bagaimana tidak, pernah di temukan di sebuah kampong ada perempuan hamil ngidam untuk di elus-elus oleh laki-laki yang di kaguminya. Ada pula yang meminta untuk elus-elus kepala botak yang plontos. Katanya ngidam, tapi apa iya demikian? Bagaimana perasaan laki-laki (suami) dalam menyikapi ini? Pastinya akan marah tetapi akan dilemma juga dengan mitos atau spekulasi tentang ngidam yang tidak terpenuhi. Kenapa tidak sekalian saja ngidam di elus mantan! Ada juga yang hamil ngidam makan manga di atas pohon nya. Walaupun pohonnya pendek tapi bagaimana tidak laki-laki khawatir. Seandainya hal hal semacam ini dapat di diskusikan dengan baik mungkin tidak akan berlebihan seperti ini. Apa sih sebenarnya yang di harapkan saat ngidam? Terkadang perempuan pun tidak tau pasti jawabannya.

***

Ada salah satu kisah pak Kukum yang berjuang memenuhi keinginan istri nya saat ngidam. Saat itu, pak kukum sedang berada di luar kota, tugas dari kantornya. Sebut saja saat itu berada di Jakarta. Hari terakhir kegiatan, sang istri telephon dan berucap “sayang, tangan saya gatel pengen sekali main angklung, kayaknya saya ngidam itu deh”. 

Pak Kukum tidak terlalu familiar denga tempat-tempat di Jakarta, terlebih mencari barang tradisional seperti Angklung. Ia hanya tau bahwa angklung merupakan alat music tradisional yang mendunia dari Jawa Barat. Maka untuk mendapatkan angklung mesti ke Jawa Barat paling tidak Bandung. Saat itu ia, berfikir keras dan melihat aplikasi Maps di handphone sebagai modal untuk melihat rute ke Bandung. Selain itu juga mengingat-ingat teman yang berada di sekitaran Jawa Barat. Hingga ia teringat teman yang berkedudukan di Cirebon. 

Bulat pemikiran dan tekat pak kukum untuk memastikan diri akan menemui temannya di Cirebon dan mencari angklung. Hingga slesai kegiatan saat itu pukul 15.30 WIB, pak kukum bergegas menuju stasiun kereta sesuai arahan temannya. Ia hanya mengikuti arahan temannya untuk menggunakan moda angkutan yang ada, tanpa terlintas sedikitpun jarak antara Jakarta dan Cirebon. Tiba di stasiun Pasar Senen, ia pun langsung ke loket dan memesan tiket ke Cirebon. Namun, saat itu, petugas memberitahukan bahwa tiket ke Cirebon yang tersedia keberangkatan pukul 18.05 WIB perjalanannya sekitar 4 jam.

Saat itu, pak Kukum mulai menyadari bahwa perjalanan akan jauh jika ke Cirebon. Sementara saat itu sudah sangat sore, mengingat tiket kembali ke kampong keesokan harinya. Pak kukum mulai kelimpungan bagaimana mensiasati hal ini. Ia menghubungi temannya kembali dan memutuskan untuk membatalkan dirinya ke Cirebon. Kemudian, ia terdiam sejenak dan teringat temannya yang sedang lanjut sekolah di Bogor. Semoga teman ku masih di Bogor, gumamnya sambal mencoba menghubunginya. Dan benar temannya ada di Bogor dan di sarankan untuk ke Bogor. Dengan penuh semangat pak Kukum kembali dalam antrian panjang dalam loket untuk memesan tiket ke Bogor. Setelah cukup lama antri, tiba giliran pak Kukum di layanai. Dengan nafas terengah-engah mengejar waktu ia pun memesan tiket ke petugas.

Pak Kukum : “Pak Tiket kea rah Bogor, satu ya “

Petugas Loket : “Hah? Bogor? 

Pak Kukum : “ Iya Pak, ke arah Bogor adanya keberangkatan jam berapa y?”

Petugas Loket : “Kalau ke Bogor tidak di sini, langsung aja pake CpmmuterLine”.

Pak Kukum terdiam dan merunduk mendengar suara petugas loket dengan lantangnya menggunakan pengera suara. Yang mana saat itu antrian di belakangnya telah berkicau dan pandangan tertuju kepada pak Kukum. Dengan langkah yang tak bersemangat, ia keluar dari loket antrian dan mencari CommuterLine. Secara perlahan ia tiba di loket CommuterLine dan berangkat menuju ke Bogor.

Dalam CommuterLine ia masih terbayang akan kejadian di loket tadi. Begitu padat penumpang menuju Bogor, bordering telephone dari sang istri. Saat itu, ia tak menghiraukan panggilan tersebut, ia masih terbayang kejadian di loket. Dan istrinya mengirimkan pesan “sayang, sudah dapat angklungnya?”. Pak Kukum tetap tidak bergemih dan tidak merespon pesan tersebut. Dia memilih untuk menenangkan diri sejenak tanpa terlalu terbebani dengan Ngidam nya sang istri.

Setibanya di Bogor, pak Kukum di jemput oleh temannya tersebut. Basa basi dalam perjalanan sambal menceritakan istrinya yang Ngidam angklung, dam menyampaikan tujuannya ke Bogor untuk mencari angklung. Respon temannya pun sangat datar dan memang tidak tau tempat membeli angklung, karena masih belum lama di Bogor.

Keesokan harinya, pak Kukum sudah tidak bersemangat lagi untuk mencari angklung. Saat itu yang di pikirkan bahwa ia pulang dengan selamat dan membeli buat tangan untuk Istrinya dari Bogor. Ia pun membeli bebrapa kue dan jajanan khas Bogor. Setelahnya ia menuju terminal Bus menuju Bandara. Dalam perjalanan menuju terminal, di sempatkan untuk menaoleh sisi sisi jalan mungkin ada yang menjajakan angklung. Hingga pandangannya tertuju pada sebuah lapak kecil di pinggir jalan yang memajang kerajinan tradisional. Pak Kukum meminta temannya untu berhenti di lapak tersebut dan menanyakan angklung. Sungguh keberuntungan bahwa lapak tersebut menyediakan angklung walapun yang tersisa hanya 1 set dan itu pun tampak barang lama. Namun, tanpa piker panjang ia langsung membeli angklung tersebut. Saat membayar, pak kukum baru menyadari bahwa di dompetnya hanya tersisa beberapa lembar uang dua ribuan. Pak kukum berbisik ke temannya untuk meminjam uang, tetapi temannya juga ternyata belum ada uang cash. Karena tidak ada uang cash jadi kami ijin ke pedagang untuk mencari atm terdekat untuk membayar angklung tsb.

Akhirnya pak Kukum mulai semangat lagi karena telah memenuhi Ngidam istri nya untuk di belikan angklung. Sesampai di rumah, pak kukum di sambut hangat oleh sang istri dengan angklung di tangannya. Istri pak kukum sangat senang sekali dengan di bawakannya angklung tsb. Di ambilnya angklung tersebut dan di susun berdasarkan urutannya dan istrinya pun mencoba memainkannya saat itu juga. Tawa riang sang istri membuat lelah pak Kukum sirna. Dan terbayar pula usahanya untuk mendapatkan angklung

***

Terkadang hal seperti ini tidak pernah terlihat oleh sebagian besar masyarakat. Betapa bertanggung jawabnya laki-laki dalam mendampingi perempuan selama kehamilan. Bahkan tanpa di ketahui sampai kapan angklung tersebut akan di gunakan, tetap di usahakan untuk ada demi buah hati. Disadari bersama juga bahwa Ngidam itu hanya keinginan sesaat yang harus di penuhi sesegera mungkin. Sejatinya masih banyak peran laki-laki dalam mendukung perempuan melewati masa kehamilannya. Menjaga kondisi perempuan agar bayi yang di kandung nya tetap sehat dan menjadi generasi emas masa depan. Perempuan dalam kehamilannya tidak pernah terlepas dari peran seorang laki-laki. Tidak hanya kaum perempuan yang perduli pada perempuan, tetapi laki-laki pun peduli dengan perempuan.

Rindu Pulang

Dunia pasti berputar, begitu pun dengan kehidupan. Banyak yang menyebutkan bahwa kehidupan itu bagaikan roda yang terus berputar sepanjang hari untuk merasakan semua sudut kehidupan. Tak selamanya berada di atas, namun ada kalanya di kesampingkan, ada kalanya tersisihkan, bahkan pada posisi lebih dekat dengan tanah dan terinjak di bagian bawah roda kehidupan. Itu semua hanya sementara karena dunia pasti berputar, begitu pun dengan kehidupan.

Perkenalkan nama ku Riang. Seperti nama ku, aku pun tumbuh sebagai anak remaja yang riang sehingga aku memiliki banyak sahabat. Sejak aku tumbuh remaja, aku telah menjadi seorang yatim. Bapak meninggal karena sakit, aku tidak begitu mengerti sakit yang di derita bapak saat itu. Yang aku tahu saat itu bapak dalam keadaan sehat dan baik, namun ketika sang khalik telah berkehendak memanggil hamba-NYA, maka apa yang hendak di kata. Aku anak ke-5 dari 6 bersaudara. 4 kakak ku selisih umur sangat jauh dengan ku, bahkan anak pertama dari kakak-kakak ku terpaut 1 tahun usianya dengan adik ku. Jadi aku tidak begitu dekat dengan saudara kecuali adik ku yang selalu menjadi rival ku di rumah. Sebagai yatim, aku kehilangan sosok bapak di dalam rumah, meski ada kakak ku yang tinggal di rumah dan berperan sebagai kepala rumah tangga. Namun, aku tetap tidap dapat merasakan sosok seorang bapak, dan kini aku selalu bergantung pada ibu ku. Orang yang selalu memberikan aku semangat dalam menjalankan hidup dan mengajarkan ku berbagai racikan bumbu kehidupan agar tetap survive. Aku tidak ingin kehilangan ibu, aku ingin selalu bersama ibu hingga nanti aku menjadi anak yang berbakti. Cukup aku kehilangan sosok bapak saat ini, jangan lagi pada ibu ku, pelindungku saat ini.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan bergati bulan setiap tahunnya hingga aku tumbuh dan tumbuh menjadi remaja yang semakin riang dan tegar. Ibu selalu menabur senyum yang tiada henti ketika menatap ku. Banyak hikmah kehidupan yang kami petik bersama ibu dalam perjalanan hidup ini. Sebagai yatim, banyak kalangan yang menyantuni selama ini, tetapi bukan berarti aku selalu bertumpu pada santunan. Banyak limpahan rahmat yang Tuhan berikan kepada ibu. Air susu ibu yang melimpah setelah melahirkan kami, sehingga kami pun memiliki banyak saudara sepersusuan, terutama aku. Saat itu, aku tidak begitu mengerti bahwa di tetangga ku banyak yang melahirkan namun tidak memiliki ASI, sehingga anak dari mereka di titipkan ke ibu ku untuk menyusui. Semenjak saat itu, banyak yang menyebutkan bahwa ibu ku adalah ibu susu. Tak jarang pula dari para tetangga tidak segan meminta bantuan pada ibu ku saat mereka memasuki masa persalinan. Ibu ku memang bukan bidan, tetapi ia selalu ada saat orang membutuhkannya saat persalinan, mulai dari persiapan, merawat pasca persalinan, mengurusi bayi bahkan mendampingi mengurusi bayi hingga sang ibu bayi terampil merawat bayi nya sendiri. Aku mulai sedikit memahami, bahwa sejak kecil ibu telah mengajari ku untuk berbagi dan aku memiliki banyak saudara, saudara sepersusuan.

Ibu ku sayang. Semenjak bapak telah tiada segala apapun menjadi tanggungan ibu. Anak-anaknya 3 telah berkeluarga dan 3 masih mengenyam pendidikan. Ibu memperjuangkan pendidikan kami bertiga dengan pensiunan bapak, beberapa kamar di rumah dijadikan kosan dan sebuah kios kecil temapat berjualan. Ibu menjalani keseharian bersama kami tanpa pamrih dan begitu sayang akan anak dan cucu nya. namun, seiring berjalannya waktu, itu semua terkikis dengan curahan air mata. Ibu terlalu sayang kepada kami, hingga ia pun tidak sanggup untuk menegur kami jika berbuat melampaui batas, ibu hanya melampiaskannya dengan doa dan air mata dalam sujud nya. cukup aku mengetahui dan memahami perasaan ibu. Saudara-saudara ku pun tahu namun tak mau memperdulikan, karena saat itu hanya aku anak perempuan yang ada di sampingnya. Banyak hal yang di pikirkan ibu, bukan sebatas biaya sekolah anak-anak nya melainkan perilaku dan keadaan anak-anaknya. Bagi ibu, anak-anak nya adalah semangat hidupnya. Merekalah permata yang ibu punya saat itu. Akan tetapi, manusia tidak luput dari salah, permasalahan, cobaan dalam hidup. Simpang siur cuitan social yang menggambarkan kehidupan anak-anak nya membuat ibu semakin terpuruk seolah gagal menjadi orang tua. Da ibu selalu terpikir akan hal itu, terus menerus.

Kehidupan saat itu seolah berbalik 180 derajat dan ibu menopang itu semua. Kakak laki-laki ku yang telah menikah dan menetap di rumah yang sedianya akan membantu meringankan beban ibu, malah sebaliknya menambah beban ibu. Kakak perempuan ku yang tertua tiba-tiba diceraiakan suaminya tanpa sebab. Kakak perempuan ku yang kedua laksana burung dalam sangkar suaminya. Kakak laki-laki ku yang ke empat telah lulus bangku kuliah dan meninggalkan kami mencari peruntungan di luar daerah. Adik ku yang kalah akan pergaulan membawa ia dalam pergaulan tidak sehat dan menjelma laksana binatang buas. Dan aku, anak perempuan nya yang ingin terus menikmati masa muda denga mengikuti gaya teman sepantaran ku untuk tetap eksis di semua penjuru. Dan kami semua kini kembali menjadi tanggungan ibu.

Melihat perjalanan hidup kami yang seperti ini membuat aku untuk berfikir lebih rasional dan mencoba menjadi lebih bijak. Hingga aku memutuskan untuk kembali lebih dekat kepada-NYA dan mengurangi beban ibu dan alm.bapak. aku bertransformasi mejadi perempuan dengan berpakian syar’i. Aku menutup aurat dan mulai menjaga sikap dan berperilaku lebih santun. Harapannya dengan niatan lil alamin ku ini akan menyejukkan hati ibu, menguatkan ibu, mengembalikan semangat ibu dan tentunya meringankan alm.bapak dalam kuburnya. Kakak laki-laki ku yang ke-4 kini telah mendapat pekerjaan walaupun di luar daerah dengan pendapatan secukup nya. setidaknya dengan begini mampu mengurangi sedikit beban ibu. Akan tetapi, tidak demikian dengan saudara ku yang lain. Adik ku semakin brutal dalam pergaulannya. Kakak laki-laki ku yang dirumah kalah akan isterinya, yang mana menjadi semaunya di rumah tanpa menghiraukan keberadaan ibu. Kakak ku yang telah di ceraikan, ia tidak di beri bersama anak nya dan kini ia mengalami gangguan jiwa. Kakak laki-laki ku yang tinggal di rumah, kini tidak bekerja dan istri nya memiliki gaya hidup mewah, untuk itu barang-barang milik ibu satu persatu di jualnya untuk menuruti keinginan istri nya. Dan kakak perempuan ku yang kedua semakin sulit di hubungi dan tak pernah menemui ibu. Kehidupan kami semakin sulit terutama bagi ibu. Kejadian ini membuat aku semakin jauh akan saudara ku dan aku hanya memiliki ibu tempat ku berbagi kasih dan sayang.

Ibu semakin pilu dan mulai sering menderita sakit. Darah tinggi semakin parah karena selalu di kejutkan dengan perilaku anak-anak nya yang kian meresahkan. Semua di pendam dan tercurah dalam doa. Ibu selalu merintih melihat anak-anak nya, ibu begitu takut menegur ataupun memperingati adik ku, lantaran kami anak yatim. Ibu sangat terpuruk akan kehidupan saat ini. Dan aku tidak bisa terus menerus berada di samping ibu karena sedang melanjutkan sekolah di luar kota. Ibu selalu menyemangati ku agar segera selesai kuliah dan kembali bersamanya. Setiap kali menghubungi ibu, ia selalu berkata dalam keadaan baik seolah tidak mengalami masalah. Namun, telinga ini tidak bisa mengelabui hati bahwa ibu sedang dirundung duka akan anak-anak nya. tetangga ku dan saudara sepersusuan ku selalu memberi kabar akan ibu dan keluarga ku di rumah tersebut, sehingga aku cukup tau perbuatan saudar-saudara ku terhadap ibu. Namun, aku hanya anak perempuan yang tidak punya kuasa. Aku hanya memohon perlindungan atas ibu dan tetap di beri kekuatan dan kesehatan hingga aku selesai kuliah. Aku ingin sekali di samping ibu, melewati masa sulit ini. Aku sangat sedih dan selalu terpikir akan kesehatan ibu. Ibu selalu bilang dalam keadaan baik, tetapi sebenarnya ibu telah sering di larikan ke rumah sakit tanpa memberi tahu ku. Ibu mungkin sengaja tidak pernam memberitahu akan hal tersebut. Ibu takut fokus kuliah ku buyar dengan kondisi ibu. Tetapi walau bagaimana pun sebagai anak, tidak bisa tidak untuk memikirkan kondisi seorang ibu terlebih aku begitu dekat dengan ibu,

Simpang siur kelakuan saudara-saudara ku semakin marak menggelitik telinga ku dan mengganggu piker ku. Kekhawatiran ku akan ibu pun semakin menjadi-jadi. Aku mulai taku akan kehilangan ibu. Aku mulai takut akan Tuhan mengambil ibu. Aku mulai takut akan kembali bersandar kemana jika tidak ada ibu. Aku takut sekali. Gundah gulana gelisah tak menantu. Siang itu, hati ku tak menantu. Air mata ku selau berjatuhan tanpa sebab. Pikir ku, takut ku mulai terbayang dengan jelas. Tangisku mulai tak terbendung. Ada apa dengan ku ini? Apa sebenarnya yang terjadi ya Robb? Aku tidak bisa berbuat apa apa. Aku tak bisa kemana-mana. Aku gemetar takut dalam angan. Siang semkin terik, ku ambil wudhu dan menenangkan diri dalam sholat. Dalam sholat ku air mata selalu berurai dan terisak, hingga salam dalam sholat ku membuat aku lebih tenang. Aku lega dan muali berfikir dengan damai dalam balutan mukena.

Hati ku mulai tenang dan menghela nafas lega setelah melewati kegundahan. Siang yang terik pun mulai terasa sejuk, dan terdengar telepon ku bordering. Aku bergegas mencari telepon ku dan menjawab telepon tersebut. Ia, itu telepon dari kakak perempuan ku yang kedua, aku begitu senang karena bisa di hubungi kakak. Dalam pikir ku, ingin ku menceritakan apa yang baru saja aku alami dengan obrolan ringan melepas kangen. Di mulai dengan sapaan ringan tentang kabar dan menanyakan keberadaan. Saat ibu, kakak ku menanyakan ibu dan ingin bertemu dengan ibu, itu sebabnya ia menelpon ku agar aku bisa menemani kakak untuk pulang ke rumah menemui ibu. Iya, sudah cukup lama kakak ku ini tidak pulang menemui ibu dan mendengar hal itu aku pun semakin senang dan riang seperti nama ku. Beberapa saat setelah itu, kakak menjemput ku di kosan dan bersama pulang menemui ibu. Saat dalam perjalanan, kakak menanyakan kabar ibu, kesehatan ibu. Aku tidak terlalu memperhatikan pertanyaan kakak ku, tetapi saat itu pandangan ku langsung menatap wajah kakak ku. Nampak ada yang aneh dalam raut wajah kakak ku, dan rasa takut itu muncul lagi. Aku mulai gemetaran dan meneteskan air mata. Sambal menundukkan kepala terdengan suara kakak ku “ibu katanya tadi di larikan ke rumah sakit setelah sholat dzuhur. Tidak tau kenapa, tadi adik mu yang menemukan ibu sudah tersungkur dan di larikan ke rumah saki”. Takut…… rasa takut ku memcah tangis ku. Aku tidak berkata, sepajang perjalanan aku menunduk dan menangis dalam takut. Dalam hati aku selalu berucap “ya Alloh, aku mohon jangan ambil ibu ku. Hanya dia yang ku miliki saat ini” berulang ulang ku ucapkan dengan lirih dalam hati. Namun, pada akhirnya Tuhan lebih menyayangi ibu ku. Setiba di rumah kerumunan orang begitu banyak dan sesak, mereka silih berganti keluar masuk di rumah ku, semakin cepat, cepat hingga pandangan ku mulai tak jelas dan raga ini tak lagi mampu menopang ku, Ibu…

***

Saat ini aku bukan lagi yatim tetapi yatim piatu. Aku masih tetap 6 bersaudara, walau kakak perempuan ku yang tertua mengalami gangguan jiwa. Tapi ia tetap saudara ku. Kini kami yatim piata, dan kami fokus mengurus diri sendiri. Seolah kakak kakak ku yang lain tak mau mengurusi kami yang masih butuh naungan. Kami hidup sendiri-sendiri, walau rumah peninggalan orang tua ku tetap kami tempati bersama kakak laki-laki ku yang telah berkeluarga itu. Kami tingga serumah namun seolah tak saling tau satu sama lain. aku perempuan dan tidak kuat dengan kondisi seperti itu, aku perempuan butuh perlindungan dan tempat berlindung dalam hangatnya keluarga sebelum aku menemukan lelaki yang akan menjadi suami ku kelak. Aku tak kuat dan fokus di bangku kuliah dan lebih banyak menghabiskan waktu di kosan. Sesekali aku sempatkan pulang melepas kangen akan suasana rumah saat bersama ibu dan bapak. Aku survive menyelesaikan kuliah dengan beasiswa tidak mampu dan sumbangan uluran tangan dari saudara orang tua ku.

Mereka lebih berperan dalam melindungi dan mendukung ku untuk menyelesaiakan kuliah daripada kakak-kakak ku. Saat itu aku benar-benar merasa hidup sendiri dan mendapat uluran tangan dari orang lain, padahal aku memiliki saudara kandung. Bahkan saudara sepersusuan ku jauh lebih memperdulikan ku. Iya, aku hanya bisa berdoa agar Tuhan membalas kebaikan mereka yang diberikan kepada ku. Hanya itu yang dapat aku lakukan, mengadahkan tangan bukan untuk meminta-minta tetapi untuk berdoa dan mendoakan. Aku pun mulai merasakan apa yang dialami ibu menghadapi anak-anak nya. kelakuak kakak laki-laki ku dan adik ku yang tinggal di rumah dan kakak perempuan ku yang gangguan jiwa. Kenapa mereka semua menyampaikan kabar akan mereka kepada ku, seolah mengadu kepada ku. Apa maksud mereka da apa tujuan mereka. Aku hanya perempuan yang lemah dan tak memiliki kuasa. Kuliah ku mulai terganggu akan kabar tidak mengenakkan tersebut. Dan aku hanya bisa menangis dalam doa, agar di kuatkan dalam cobaan hidup ini.

Adik ku sungguh tidak tau terimakasih. Semejak yatim piatu semua keluarga dan tetangga berbondong-bondong memperhatikannya. Semua kebutuhannya selalu di penuhi dan di sediakan. Bahkan sekolahnya pun ia di bebas kan dari semua aspek pembayaran. Makan minum, uang jajan, pakaian semua di sediakan. Semata-mata cara mereka untuk berterimakasih atas kebaikan ibu sewaktu masih hidup. Namun, menyaksikan ibu sakaratul maut membuat adik ku tidak serta merta berubah perilakunya. Bahkan semakin menjadi-jadi karena tidak ada yang disegani. Niatan para sanak saudara dan tetangga akan menjamin hidupnya pun di sia-siakan dan tidak di indahkan. Hingga mereka lepas tangan dan tak lagi mengurusi adikku. Semua cerita tentang mereka selalu di adukan kepada ku. Dan itu menjadikan beban moral bagi ku. Sementara kami 6 bersaudara tidak mau saling mengurusi. Mendengak kabar-kabari seperti itu membuat ku geram dan hanya berurai air mata. Aku sangat sedih mendengar kelakuan adik ku. Dan sudah lama pula aku tidak bertemu dengan nya. adik ku memang sulit di temui karena lebih sering di jalan daripada di rumah. Waktu itu, aku ingin menemuinya. Akan ku coba berbicara dengannya dengan baik, akan kuberikan pandangan kedepan untuk lebih baik. Setidaknya ia mau mendengarkan ku, karena aku kakak nya dan mau melanjutkan sekolahnya. Aku memahaminya bahwa ia anak yang keras kepala karena pengaruh perhaulannya. Dia hanya membutuhkan uang dan uang, demi uang ia bisa menjelma menjadi apa saja. aku sangat mengkhawatirkannya.

 Aku sudah mempersiapkan diri untuk pulang dan menemui adik ku. Selepas kuliah, aku bergegas pulang. Kesana kemari aku menghubungi teman untuk mencari tebengan pulang namun tidak ada yang bisa. Akhirnya aku memutuskan pulang menggunakan bus, dan bus ke kampong ku hanya ada di siang hari, aku pun menunggu siang untuk itu. Dalam perjalanan, aku mencoba menghubungi adik ku namun semua no teleponnya tidak ada yang dapat di hubungi. Tapi aku terus mencoba untuk menghubungi, hingga aku menyerah untuk menghubunginya lagi. Aku pun berharap semoga adik ku ada di rumah sore ini. Perkiraan ku sampai di rumah sore, namun lajunya bus yang ku tumpangi lebih pelan dan sering berhendi menaikkan penumpang. Sore menjelang petang aku pun tiba di rumah. Setidakanya jika adik tidak ada di rumah, aku masih bisa menunggunya pulang sambal istrahat di rumah tanpa perlu mencarinya ke jalanan. Saat itu, rumah tampak sepi, lampu dalam ruangan tengah menyala. Itu aryinya ada kakak ku di rumah. Aku pun mengetuk pintu sambal mengucap salam. Tidak ada yang menjawab salam ku, aku coba memanggila keponakan ku namun tetap tidak ada jawaban. Aku mulai heran, lampu ruang tengah menyala namun tidak ada suara keponakan ku yang biasanya riuh. Aku terus memanggil dengan nada yang semakin keras. Hingga adzan magrib pun mulai berkumandang aku belum saja di bukakan pintu. Padahan aku yakin di dalam ada orang. Ku coba sekali lagi memanggil dengan suara yang agak kencang tapi nihil tidak ada jawaban. Tetangga ku pun Nampak sepi tidak ada di rumah. Lalu aku putuskan untuk duduk di teras rumah sambal menunggu datangnya kakak ku.

Orang lalu lalang lewat di depan rumah, hingga tetangga samping rumah menghampiri ku. Bibi itu kaget melihat ku duduk di teras rumah sendiri dan berpangku tangan. Sontak bibi itu mengejutkan ku sambal memelukku erat dan menangis. Piker ku, bibi ini melihat keberadaan ku mengingatkan akan ibu. Aku pun tersenyum sambal meneteskan air mata. Bibi semakin erat memeluk ku dan menangis begitu kecang sampai tetangga ku yang lain pun datang melihat ku. Mereka yang datang selalu berurai air mata memandang ku. Aku semakin sedih dan semakin bingung ada apa ini? Mereka semua histeris melihat ku sendiri di teras, dan mereka membawa ku ke rumah bibi sebelah rumah. Ada yang merangkulku sambil berjalan, ada yang membawakan barang bawaan ku. Aku tidak bisa berkata, isak tangis ku seolah menceking leher ku. Air mata ku tumpah hingga terdengar bisikan bibi ku bahwa rumah ku itu telah di gadaikan oleh kakak ku. Sontak tangis ku pecah dan histeris berucap “kemana akan aku pulang lagi! Kemana aku pulang? Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, siapa yang akan melindungi ku. Rumah tempat berlindung pun sudah tidak ada. Ibu……. Bapaaaak…. Kemana aku pulang?

***

Tak Bermakna Hujan

Gelap pertanda warna akan kehadirannya

Sayup dingin mengiringi datangnya

Rintik riang menutup pandang

Laksana dialah penguasa daratan

Sayup sayup mata menembus pandang

Terbesit kilau jingga mengancam

Gaungnya menggetarkan jiwa

Hingga raga memberontak

***

Kehadiran yang membawa rindu

Rindu syukur tiada hingga

Memudar perlahan dengan derasnya, Kedaimaian pun terseret amarah

Titik titik riang beralunan, Terusik penerka nan berbalut nafsu

Tertuang naikmat berlabuh tanpa batas

Tiada asa membendung, hilang akal menggapai puas luas

Terlupa akan syukur,

Menghanyutkan nikmat demi kekufuran.

***

Tak lagi gelap pertanda warna

Begitu cerah pun tak tanda warna

Menghampiri tak berbatas akal

Melengserkan para penopang iman

Merobohkan akhlak para rakus

Tak ada sisa nikmat hendak bersyukur

Kian tak tau kembali menuju.NYA