Menjemput Bidadari Hati, Ramadhan Pertama sebagai seorang Suami

26 merupakan angka yang teristimewa dalam perjalanan hidup ku. Angka yang tak pernah ku duga, kini menjadi tanggal dimana aku telah resmi mempersunting seorang perempuan yang sangat bersahaja. Kini ia telah menjadi isteri ku, Yusilawati. Kini 7 bulan telah kami lewati bersama sebagai pasangan suami isteri muda.
Rentetan perjalanan yang cukup padat ku lewati demi menjembut sang bidadari hati. Jarak yang sangat jauh tak mengendorkan semangat ku untuk menjemputnya. Ratusan kilo meter jalan ku lalui dan menyebrangi lautan hanya teruntuk dirinya. Tanpa persiapan matang, namun semangat dan niatan yang kuat dan kokoh. Aku tak gentar.

21 Oktober 2016. Aku mengawali perjalanan untuk menjemputmu wahai sang bidadari hati ku. Waktu terus berpacu dengan namun tak mampu menyurutkan langkah ku untuk dapat bersamamu. Lebih 14 jam ku taklukkan waktu untuk menjemput impian bersamamu. Rasa lelah, letih, lesu, lemas tak berani menggerogoti jiwa ini, melainkan meleburkan diri menjadi pemacu semangat dalam darah.

22 Oktober 2016. Wajah semeringah dengan senyum lepas selelu menghiasi. Hati ku berdegup semakin kencang tak karuan. Tat kala, aku harus menemui keluargamu hanya untuk memberitahukan keberadaan ku yang kini sudah tak bersebrangan lagi. Tak ada rasa gugup dan khawatir yang mendampingi ku. Alhamdulillah dengan langkah yang ringan dan tenang menghantarkan ku menemui ninik. Sapa bahagianya ninik menyambutku, mata yang berkaca-kaca saat mengemasi barang-barang serta pakian milikmu. Hingga tumpahlah air mata bahagia itu saat aku beranjang membawa barangmu. Tempatnya tak lagi sama, tapi kini sudah berpindah tempat ke gubuk ku. 

23 Oktober 2016. Hati tak sabar ingin segera menemui mu. Aku tak mengerti kali ini aku merasa gelisah dan canggung melangkahkan kaki. Aku tak ragu, namun seolah ada rasa tak percaya diri yang menghampiriku. Wajah kusam nan kusut dah hitam semakin tampak jelas. Iya, aku menyadari saat itu diriku sangat kucel. Kucel memang karena tak pernah ada perawatan khusus untuk persiapan menemuimu. Teringat ini adalah kali ketiga kita bertemu dan pertemuan ini akan menjadikan kita sebagai pasangan abadi. 

Dengan ucapan bismillah, ku bulatkan tekad untuk segera menemui mu demi menuju impian kita. Lagi-lagi jarak tak berdaya untuk mengurungkan tekad ku. Hingga akhirnya tibalah aku di hadapan mu. Jiwa ini semakin tenang menatap senyum ramah mu yang penuh bahagia. Namun, aku takut terlena hingga lupa tujuan ku menemuimu. Aku menemi mu untuk 1 tujuan yaitu mencarikanmu Cincin Emas yang akan ku sematkan di jari manismu saat Ijab Kabul nanti.

Pertemuan itu sangat singkat namun bagiku sangat berkesan. Aku tak berani menatapmu terlalu lama, karena bagaimanapun saat itu kita bukan muhrim. Cukup pertemuan singkat itu, membuatku lupa akan arah pulang. Saat itu aku seolah-olah melayang tak terhingga. Iya, aku bahagia dengan penuh cinta dan ku genggam cincin emas yang akan menjadi emas kawin.

24 Oktober 2016. Pagi itu mentari menyapaku dengan gembira. Keluargaku berkumpul untuk menentukan waktu yang tepat untuk menjemputmu dan membawamu ke gubuk tua ku. Hari ini akan menjadi hari pertama bagi mu untuk pulang ke gubuk ku. Hal yang selalu kau takutkan dan khawatirkan. Tempat pulang, tujuan mu pulang adalah hal yang selalu membuatmu pesimis dalam melangkahkan kaki untuk tetap tegar berpijak di bumi ini.

Hari ini adalah hari yang kau nantikan dan di impikan keluargamu. Wisuda program sarjana. Sebagai bukti bahwa kau telah berhasil menamatkan sekolahmu. Dan hari ini juga menjadi hari dimana kau menemukan tempat untuk kembali pulang. Aku tak mengerti dalam perjalanan menuju wisuda mu, mata ini selalu berkaca-kaca. Diiringi dengan suasana pagi yang semakin diselimuti mendung. Teduh ia teduh, suasananya teduh dan sejuk. Seolah hari itu menggambarkan suasana hati ku. Hujan rintk-rintik pun turun menyejukkan hati. Tanpa terasa tumpah pula air mataku penuh syukur.  

Selepas kau prosesi wisuda berakhir. Aku mencari dan ku temukan kau dengan paras cantik yang sangat sederhana. Setangkai bunga mawar berwarna merah muda ku berikan, sebagai tanda kasih ku padamu di hari yang penuh makna ini. Gerimis manja pun menyelimuti tawa bahagia kita. Dan ku bawa kau ke tempat ku dan akan ku jadikan kau ratu dalam gubuk ku.

25 Oktober 2016. Wajah manismu di kelilingi rasa cemas dan canggung. Suatu hal yang tidak biasa mungkin kau rasakan saat itu. Hari pertama berada di dalam gubuk ku, bersama keluarga ku yang sedang mempersiapkan acara hari esok. Hari yang kita impikan untuk mengikat kita bersama selamanya. Hari pernikahan. 

26 Oktober 2016. Hari yang di nantikan telah menyapa dengan hangat. Namun, tampak di wajahmu kecemasan dan kesedihan yang sulit aku ceritakan. Namun, aku cukup tau apa yang kau cemas kan dan apa yang membuatmu bersedih. Aku memahami nya. Tetapi, bukan berarti mengurangi rasa syukur dan bahagia mu menuju hari ini. 

Aku merasa tampak berbeda. Seolah-olah hari ini tidak ada hal yang berbeda, ini tampak seperti biasanya. Aku tidak cemas, tegang khawatir dsb. Ini memang hari yang kami nantikan, namun tidak membuatku manjadi tegang dan khawatir. Ini menunjukkan bahwa aku telah siap untuk menuju hari ini. Aku tak gentar.

Menjelang sore harinya, calon isteri ku pun sudah di rias dengan begitu alami hingga terpancar kecantikan alami yang begitu menyejukkan hati. Gaun pengantin berwarna putih membuat ia semakin terlihat anggun. Hati ku berbunga-bunga menatap nya. 

Keluarga dan tamu pun satu-persatu telah tiba di gubuk ku untuk menyaksikan pernikahan kami. Pak penghulu pun dating di dampingi kepala dusun dan kiyai. Suasana semakin semarak dan ramai. Aku pun semakin bersemangat. Namun, calon isteriku tampak gelisah dan cemas karena kabar kedatangan kakak nya yang akan menjadi wali belum terdengar oleh nya. (yang akan mejadi wali nikah nya adalah sang kakak, dimana kedua orang tua dari calon isteri ku telah tiada).

Suasana semakin semarak saat kedatangan kakak dari calon isteriku, yang hendak bertindak sebagai wali. Aku pun di minta keluar dan menempati tempat prosesi ijab Kabul. Kami duduk berdampingan di depan penghulau dan wali. Alhamdulillah aku masih dalam kondisi tenang dan nyaman menebarkan senyum bahagian. Tetapi calon isteri ku masih nampak tegang dan menahan kesedihan.

Suasana semakin hening dan haru saat kami melafaskan dua kalimat sahadat. Kesedihannya tumpah ketika, sang penghulu memulai prosesi dengan meminta pengantin perempuan memohon izin kepada wali nya untuk di nikahkan. Dengan nada terbatah-batah dan sendu berurai air mata, ia pun melakukan yang diminta sang penghulu. Dan kini tiba saat nya aku mengucapkan ijab Kabul.

Ku Tarik nafas dalam dengan pelan dan penuh percaya diri. Ku ucapkan dengan lantang dan tegas lafas ijab Kabul. Hingga terdengar suara “Barakalloh” dari semua keluarga dan tamu. Hingga tumpahlah air mataku beserta semua sanak saudara dari isteri ku. Aku hanya sepintas mendengar lafas itu dan suara isak tangis dari isteri ku. Aku pun tak menyadari aku berurai air mata bahagia. Kini di benakku bahwa aku telah menjadi sorang suami dan siap membina rumah tangga. 

Aku tak menyangka bahwa saat itu, para kerabat dan keluarga mencurahkan bahagia dengan berlinang air mata. Terutama dari keluarga isteri ku. Aku cukup memahami makna dibalik air mata bahagia mereka. Walau aku sangat sulit untuk mendeskripsikan hal tersebut. Ini tidak terlepas dari latar belakang isteri ku yang sudah melewati perjalanan hidup cukup panjang tanpa kedua orang tua. Hingga ia dapat menamatka sekolah dan menemukan tempat untuk kembali dan mendapat perlindungan. Kini akulah pelindungmu wahai isteri ku. Bidadari hatiku.

Mengawali bahtera rumah tangga yang terbilang muda, tentunya dengan persiapan psikologis yang terbatas membuat kita melewati 7 bulan ini dengan penuh suka duka. Saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Berbagi tawa bahagia bersama terlebih dengan di anugerahinya janin dalam Rahim mu. Amanah yang Alloh berikan kepada kita untuk kita jaga dan rawat hingga ia kelak menjadi anak yang soleh-solehah. 

Kini kita menjumpai tanggal 26 kembali setelah 7 bulan lamanya bersama. Besokadalah hari pertama kita berpuasa menjadi pasangan suami isteri dengan anak yang di dalam kandungan yang juga tepat berumur 7 bulan. Semoga kita selalu dalam lindungan sang Maha Pencipta akan kita diberikan kesehatan dan melewati Ramadhan dengan penuh ampunan dan berkah. Hingga menuju hari kemenangan.

Meramu Sinergi Lintas Sektor Ala Kabupaten Lombok Barat

Pada tahun 2014, Gubernur NTB mengeluarkan surat edaran nomor SE/150/1138/KUM tahun 2014 tentang Pendewasaan Usia Perkawinan. Dimana dalam surat edaran tersebut disebutkan bahwa, usia kawin pertama bagi perempuan dan laki-laki di NTB yaitu 21 tahun. Hal ini dilator belakangi berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2013) yang menyebutkan bahwa:

2,6 % menikah pertama kali pada umur kurang dari 15 tahun; 

23,9 % menikah pada umur 15-19 tahun.

Sekitar 26% perempuan di bawah umur menikah sebelum fungsi-fungsi organ reproduksinya berkembang optimal. 

Hal yang mengkhawatirkan dimana perkawinan usia anak ini secara tidak langsung turut andil sebagai salah satu penyebab tingginya angka kemiskinan atau dapat dikatakan sebagai kemiskinan yang terorganisir. Selain itu juga usia kawin pertama yang sangat dini memicu tingginya angka kematian ibu dan anak. 

Kabupaten Lombok Barat dengan sigap merespon cepat surat edaran tersebut dengan membentuk Gerakan Anti Merariq Kodeq. Terbentuknya program ini terbilang sangat cepat terkesean terburu-buru dalam pembentukannya. Dan sejauh ini masih terkesan bersifat sebagai gerakan parsial yang belum teroganisir dengan rapi dan terstruktur sehingga secara indikator belum dapat diukur keberhasilannya. Sehingga angka perkawinan anak masih cukup tinggi dan UKP belum mencapai standart indicator RPJMD. Oleh karenanya sampai saat ini belum ada gaung dari gerakan tersebut. 

Perlu diketahui bahwa, sejak tahun 2013 di kabupaten Lombok Barat sudah terbentuk kelompok kerja lintas sector antara berbagai multifungsi Pemerintah, Organisasi Profesi, NGO dan berbagai Tokoh yaitu  District Working Group (DWG). Pada saat itu hanya fokus pada peningkatan cakupan KB MKJP. Dan hasil dari kerja lintas sector ini sangat baik, dimana hasil yang dicapai jauh di atas target. Oleh karenanya kelompok kerja lintas sector ini lanjut dengan program kampong KB. Namun, melihat permasalahan isu perkawinan anak ini membuat DWG merasa harus ambil andil dalam mensukseskan GAMAK. Belajar dari program sebelumnya bahwa permasalahan yang ada tidak hanya menjadi permasalahan yang dilihat hanya 1 aspek kedinasan semata. Namun, permasalahan yang ada di daerah adalah permasalahan bersama yang harus diselesaikan bersama-sama pula. Sehingga dilakukan Revitalisasi DWG yang mana DWG siap memperluas keanggotaan dan perannya termasuk ikut merespon isu perkawinan anak.

Dengan adanya perluasan peran ini, NGO yang tergabung dalam DWG ini pun semakin giat dalam mengembangkan program GAMAK dengan keahlian masing-masing. Sehingga terwujudlah sinergi yang anggun antara semua elemen dan lintas sector. Dalam hal ini, bebrapa aliansi bergabung untuk mendorong GAMAK dalam merespon cepat isu perkawinan anak bernama Aliansi Yes I Do. Aliansi ini inisiasi dari Rutgers WPF Indonesia, Plan Nasional dan ARI Nasional dengan mitra PKBI Lombok Barat, ARI NTB, PUPUK dan LPAR. Dengan pernyataan Yes I Do! ini merupakan komitmen untuk bersama-sama dalam pengakhiran perkawinan anak dan kehamilan remaja.

Aliansi ini di design dengan tidak hanya fokus pada 1 sektor semata, namun dari semua sektor meliputi ekonomi, pendidikan, kesehatan hingga gerakan sosial. Kegiatan aliansi ini di mulai dengan meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa perkawinan anak ini merupakan permasalahan bersama yang sangat besar dan krusial. Bagi aliansi, yang di tekankan dalam masyarakat bahwa pernikahan anak atau menikahkan anak yang masih dini merupakan salah satu tindakan yang melanggar HAK ANAK. Yang mana nantinya akan banyak timbul permasalahan kedepannya dari perkawinan anak. Dengan menikah usia anak, maka hak anak untuk mendapatkan pendidikan terputus. Hak kebebasan untuk bermain dll pun akan terputus. Sehingga akan banyak dampak yang ditimbulkan kedepannya baik dari dampak ekonomi, social, kesehatan dll. Seperti timbul KDR, perceraian, berat bayi lahir rendah, lahir premature, gizi buruk, kematian ibu dan anak, pengangguran hingga kemiskinan.

Aliansi butuh waktu kurang lebih 7 bulan dalam membangun kesadaran masyarakat untuk ikut bergerak atau melakukan gerakan sebagai wujud yang mendukung dalam mensukseskan GAMAK melalui aliansi. Berikut inisiatif masyarakat yang dibangun bersama aliansi :

Terbentuk sebuah Kelompok Perlindungan Anak Desa (KPAD) ini siatif ini langsung di SK kan oleh kepala desa setempat. Harapannya dengan kelompok ini akan membatu desa dalam membantu dalam pemenuhan hak-hak anak di desa. Serta membantu dalam memastikan hak anak di desa sudah terpenuhi dengan baik. Serta melakukan pencegahan dalam terjadinya kasus-kasus yang terjadi pada anak. Hal ini dilakukan dengan memberikan wadah yang aman bagi anak untuk bermain, belajar dan berkreasi.

Terbentuknya Kelompok Dialog Warga meliputi kelompok remaja perempuan, kelompok remaja laki-laki, kelompok orang dewasa perempuan dan kelompok orang dewasa laki-laki. Dalam kelompok ini akan saling membangun kepercayaan diri dari kelompok dan melaksanakan aksi dalam mengakhiri perkawinan anak. Kegiatan ini akan membantu kelompok dalam menemukenali kekuatan mereka, mendekatkan dengan mimpi mereka, menyusun rencana aksi sesuai kekuatan yang mereka miliki hingga merayakan mimpi bersama.

Terbentuknya layanan Posyandu Remaja. Ini dilakukan guna mendekatkan akses layanan kesehatan bagi remaja. Karena selama ini remaja akan mengakses layanan kesehatan ketika mengalami sakit. Harapannya dengan mendekatkan akses layanan ini remaja dapat mengetahui perkembangan kesehatannya, khususnya kesehatan reproduksi. Sehingga remaja perempuan khususnya mendapatkan informasi yang benar terkait perkembangan organ reproduksi atau pubertas, seperti menstruasi, hyginitas organ reproduksi sehingga terhindar dari infeksi menular seksual (keputihan, dll).

Adanya implementasi Pendidikan Keshatan Reproduksi di sekolah. Pendidikan kesehatan reproduksi ini bukan berarti mengajarkan anak untuk bereproduksi, namun dalam pembelajaran ini lebih ditekankan dalam pemahaman anak mengenai tumbuh kembang anak. Terutama bagaimana mengendalikan emosi anak. Perilaku hidup sehat yang terbebas dari Narkoba, dll. Serta menumbuhkan sikap bertanggung jawab terhadap diri sendiri.

Terbentuknya wadah untuk melatih soft skill anak untuk menunjang kreatifitas anak.

Harapannya dengan adanya inisiatif dari masyarakat ini, anak menjadi pribadi yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Sehingga anak nantinya dapat menentukan kapan siap untuk menikah, dengan siapa akan menikah dan memilih untuk tidak menikah. (memilih tidak menikah ini maksudnya saat perempuan dalam teradisi adat sasak Merariq, ketika sudah dilarikan namun sejatinya ia tidak mau menikah maka perempuan tersebut berhak untuk memilih untuk tidak menikah saat itu).

Jadi inilah ramuan khas Kabupaten Lombok Barat mensukseskan Gerakan Anti Merariq Kodeq dan mengutamakan perhatian pada anak sebagai aset masa depan daerah. Dan tidak ada lagi anak yang putus sekolah karena menikah. Sehingga diharapkannya semua desa memiliki inisiatif tersebut (saat ini baru 4 Desa yang telah membangun inisiatif tersebut Desa Kediri Induk, Desa Jagaraga Indah, Desa Lembar Selatan dan Desa Sekotong Timur). Hal ini dilakukan untuk membangun lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak, sehingga anak-anak tetap bergembira.

“Kejeniusan Dilahirkan dari Kegembiraan (Thomas Amstrong)”

Suport besar pemerintah Kabupaten Lombok Barat bersama DWG ini adalah sebagai salah satu komitment besar dalam mewujudkan Lombok Barat sebagai Kabupaten Layak Anak. Harapannya dengan sinergi program seperti ini mampu memenuhi beberapa indicator dalam menjadi KLA. Dan memberikan perhatian lebih bagi anak sebagai asset daerah. 

“Membangun Anak adalah Membangun Bangsa”

Refleksi masa kecil “Memadaq” (mencari hartakarun pesisir pantai)

Ketika berbicara masa kecil, itu berarti aku sudah tidak kecil lagi. Minggu ini terbilang aktivitas pekerjaan sangat amat padat sampai mumet. Hari minggu ini pun sebenarnya masih ada yg harus d selesaikan urusan kerjaan, tetapi ku selipkan waktu untuk bareng keluarga. Dan tentunya untuk menulis juga dong, demi komitment di 1 minggu 1 cerita 😊

Hari minggu ini aku berkumpul bersama keluarga, waktu buat bareng keluarga untuk meregangkan urat otak ini. Awalnya tidak ada rencana untuk keluar rumah, pinginnya puasin diri di rumah aja. Namun, selepas makan siang ibu ku menanyakan bulan. Bulan yg di tanyakan itu bulan atas (purnama). Ia, 2 hari lalu sudah purnama dan hingga sekarang bulan masih terang. Terang bulan, berarti masih ada musim memadaq. Ibu pun mengajak kami semua untuk bareng-bareng  memadaq. Aku pun langsung meng.iya kan ajakan ibu, seingat ku dulu masih di bangku sekolah dasar terakhir pergi memadaq. 

Oh iya memadaq itu istilah di kampung ku yaitu mencari kerang laut. Ini kegiatan musiman saat purnama hingga hilang purnama. Bisanya pada musim ini muda mudi beramai-ramai ke pantai dr siang hingga sore. Tidak hanya muda.mudi orang tua pun berbondong.bondong seakan tidak mau kalah dg muda.mudi (ini sih dulu, saat ku masih anak.anak). Para orang tua biasanya memanfaatkan musim ini untk penghasilan tambahan, karena kalau dapat banyak dapat d jual dg harga yang cukup menggiurkan. Tapi kali ini, kami pergi memadaq untuk melepas kangen akan masa anak.anak, terutama ibu ku. Setelah menikah dulu tidak pernah lagi memadaq . Dan ini moment refleksi masa kecil kita, sekaligus mengasah skill memadaq yg cukup lama terpendam.

Kita pun sigap mempersiapkan perlengkapan mencari hartakarun. 

1. Batok Kelapa

Peralatan perangnya cukup simpel, yang penting benda tersebut dapat d gunakan untuk mengkerub bebatuan dan pasir pantai. Biasanya orang.orang banyak menggunakan cangkang batok kelapa, kayu hingga sendok. 

Kali ini kami memilih menggunakan cangkang batok kelapa. Ini sangat mudah di dapatkan dan kuat juga untuk mencongkel hingga mengeruk bebatuan. Tidak khawatir mudah patah juga.

2. Ember

Tak lupa ember untuk menampung hartakarun si kerang laut. Biasanya orang yang sudah ahli dan mahir memadaq yang bawa ember besar, bagi pemula cukup bawa pelastik kecil aja atau terkadang tidak membawa wadah. Iya pemula jarang bawa wadah karena sulit mendapat kerang. Tapi, ibu ku kali ini sangat optimis dan semangat 45 sehingga membawa ember (harapannya sih dapat seember penuh 🙏).

3. Hafalin lagu

Ia, kata orang.orang terdahulu saat menggali atau mengeruk bebatuan pantai harus di sertai lelakaq atau kami biasa menyebutnya lagu. Begini liriknya : 

Keduq keke 

lendang bajo

Sain epe 

iya kanggo

Ini tepatnya sih lelakaq atau pantun, tetapi kita menyanyikannya. Katanya sih agar cepet muncul si kerang dari persembunyiannya.

Setelah persiapan tersebut, kami pun mulai beraksi.

Bagi orang yg sudah ahli, mereka sudah hapal hamparan bebatuan ini yang di tempati para kerang untuk berkumpul. Sehingga mereka sekali duduk dan mengeruk mereka bisa dapat se.ember. 

Dalam mencari hartakarun ini, kami mengeruk, mengais membentuk kubangan sambil mendendangkan lagu berkali kali. Berpindah.pindah tempat untuk menemukan dan mengumpulkan hartakarun kerang ini. Ember pun mulai terisi. Secara bergantian kami menuangkan tangkapan kedalam ember. Hingga mentari mengundurkan diri, terkumpullah hartakarun kami. Segenggam kerang laun, hasil tangkapan kami dari sore hingga petang.

Riang gembira terpancar dari raut wajah ibu melihat hasil tangkapannya. Segenggam kerang pantai. Ibu sangat senang karena dapat banyak (segenggam itu bagi ibu sudah hasil yang banyak). Ibu cerita bahwa dulu semenjak anak.anak saat memadaq tidak pernah bisa dapat menemukan kerang. Dan kini setelah 28 tahun tidak memadaq malah bisa dapat segenggam kerang pantai. Jadi wajar ibu ku sangat senang dan bangga kali ini 😂. 

Klise Silam Berbalut Kerinduan

Gadis kecil itu laksana bintang di tengah lapangan dengan kostum nomor punggung 2, selalu mencuri pandang para mata di sekelilingnya. Wajah ceria dengan rambut panjangnya yang cantik dan memiliki lompatan yang sangat menawan namun mematikan. Johariah, itulah nama gadis kecil yang menjadi primadona di tengah lapangan volley di era 80an. Pada masa itu ia masih berusia sekitar 15 tahun, dia lah satu-satunya anak perempuan yang mampu bersaing dengan orang dewasa dan di rekrut sebagai pemain inti pada team dewasa Bayangkara yaitu team Bringin 1.

Tak perlu lagi kalian melihat masa lalu ku. Cukup sebagai kenangan ku, karena tak semua yang kalian lihat dari sudut pandang kalian itu benar dan baik adanya. Kepiawaian dan kemampuan ku yang sudah tidak di ragukan lagi di lapangan volley tidak seindah perjalananku di bangku sekolah. Pada masa itu, kemampuan di luar sekolah tidak dapat menjaminku untuk tetap melanjutkan sekolah. Karena kemampuan ekonomi orang tua ku memaksa aku untuk putus sekolah. Iya, aku hanya dapat kabar bahwa aku naik ke kelas 2 di sekolah menengah penyuluh social (SMPS). Hanya sebatas kabar, raport hasil belajar ku hingga kini tak pernah ku lihat wujudnya. Raport ku di tahan sekolah karena belum membayar SPP sekolah. Maka tamatlah riwayat ku untuk melanjutkan sekolah.

Mestinya aku duduk di bangku kelas 2 SMPS. Aku resmi keluar dari sekolah, namun aku mendapat panggilan untuk mewakili daerah ku dalam Pekan Olahraga Nasional dalam team volley kabupaten. Aku tidak paham regulasi atau kebijakan kala itu, dari daerah nama tercantum sebagai team volley mewakili sekolah. Akan tetapi sekolah tetap pada keputusannya bahwa aku sudah bukan siswa di sekolahnya. Padahal piker ku aku dapat di beri kompensasi dalam hal ini, mengingat di belum genap sebulan aku putus sekolah. Bukan mau dan ingin ku pula untuk berhenti sekolah. Ingin ku ya tetap sekolah dan menjadi team volley daerah di ajang PON. Dan ini kesempatan ku, aku mendapatkan posisi itu dan aku sangat senang serta bangga. Namun semua itu dalam sekejap kandas.

Kini harapan penuh ku hanya pada team volley Bayangkara Beringin 1. Aku mengoptimalkan kemampuan ku dalam bermain volley dan mampu meyakinkan pelatih untuk menjadi pemain tetap di team kebanggaan ini. Senang bukan kepalang saat mendapat kabar bahwa aku akan di angkat menjadi pemain tetap di Bayangkara Beringin 1. Namun, lagi-lagi aku mennggak pil pahit. Aku terlilit system administrasi dan regulasi, syarat pertama yang aku dimintai adalah minimal ijazah SMA (SMPS) dan atau surat keterangan masih sekolah. Aku kalah, aku tak berdaya. Aku mengharapkan bantuan kakak laki-laki ku yang kala itu sudah menjadi seorang guru untuk membantu paling tidak menyambung sekolah ku, dengan kerabatnya yang pastinya banyak. Namun, ia malah tak memperdulikan ku, dan ia hanya berkata bahwa itulah resiko kalua berhenti sekolah. Remuk jiwa raga ini mendengar kata-kata itu. Siapa yang salah, mestinya dia sebagai kakak ku yang dalam keluarga ku hanya dia yang sudah berhasil menjadi seorang pegawai mestinya sumbangsih dalam kelangsungan sekolah adik-adiknya. Ia taka da tanggung jawab terhadap keluarganya yang masih bersekolah. Lagi-lagi aku tak punya kuasa, aku hanya bisa terdiam dalam tangis ku. Yang ku rindukan satu persatu meninggalkan ku dengan sadis.

b7e7f-monochrome-alone-black-and-white-anime-girl-favim-com-4131988
anime-girls-falvim.com

***

Kini aku menjalani keseharian laksana anak perempuan pada umumnya, karena tidak bersekolah aku pun mencoba kerja serabutan menjadi tukang cuci dan obras pakaian. Hanya ini yang dapat aku lakukan setelah terhempas akan kerinduan akan mimpi-mimpi ku. Pekerjaan ini secara perlahan menjadi kebiasaan dan aku mulai nyaman menjalankannya. Dengan ini aku tidak membebani orang tua ku, paling tidak aku mampu memenuhi kebutuhan keseharian ku. Namun, nampaknya pemahaman dan pemikiran ku ini tak sama dengan orang tua ku. Orang tua ku menerima lamaran seorang pria kepada ku. Aku hanya tau pria itu namun tidak pernah memiliki perasaan dengan dia bahkan tak pernah bertemu dekat. Pernikahan ini aku tahu saat 1 hari sebelum ijab Kabul. Aku tak tau apa-apa, kala itu yang aku tau orang tua ku aka nada gawe sehingga aku pun bergegas membantu persiapannya. Dan ternyata itu gawe untuk pernikahan ku. Aku tidak tau pada saat itu aku mesti senang, bahagia atau bersedih. Namun, apapun yang terjadi mungkin ini yang terbaik buat ku dari orang tua ku. Pria yang kini ku panggili suami pun ternyata belum selesai kuliah nya. ia masih menjadi mahasiswa tingkat akhir. Jujur saat ini hayalku akan masa depan sangat positif. Kerinduan akan masa lalu ku yang sempat kandas tak boleh terjadi pada anak-anak kun anti. Paling tidak melalui mereka nantinya mampu melelehkan kerinduan ku silam.

Mengandung anak pertama berjalan dengan baik. Aku selalu di perhatikan oleh keluarga ku untuk anak pertama ku. Aku laksana permaisuri yang selalu di perhatikan dan dimanjakan. Mereka sangat baik kepada ku, sangat mensuport ku dalam mengandung anak pertama ku. Keluarga yang paling berperan kala itu, karena suami ku melanjutkan kuliahnya dengan harapan ia sudah menamatkan kuliahnya saat anak pertama lahir. Kami pun merajut janji harapan untuk buah hati pertma. Tidak hanya keinginan dari suami tetapi dari semua keluarga sudah menyiapkan segala sesuatu kebutuhan untuk melahirkan bahkan angan-angan kelak dewasa anak ini akan menjadi siapa.

Saat usia kandungan ku memasuki trimester ke tiga, ibu mertua ku meninggal dunia. Ibu yang selalu memperhatikan dan menantikan cucu nya lahir. Cucu yang di harapkan nantinya menjadi orang besar yang soleh/soleha, berpegang teguh pada agama dan murah hati terhadap sesama. Sepeninggalan ibu mertua ku ini, dunia seolah berubah. Semua sibuk dengan urusan harta dan asset dari mertua ku.  Dan tidak ada yang mengingat akan kehadiran anak paling kecil ibu (suami ku), begitupun kehadiran ku dengan kehamilan ku. Kami seolah tak di anggap, semua berubah wujud dan bentuk nya. Hingga tiba waktunya aku melahirkan. Segala sesuatu yang telah di siapkan ibu mertua untuk keperluan ku melahirkan tak tampak satu pun. Aku hanya di dampingi suami dan ibu ku. Saat itu, tampak suami ku hanya sebatang kara tanpa sanak saudara. Anak pertama kami lahir dan suami ku memutuskan untuk tetap di samping ku dan anak kami. Ia tidak melanjutkan kuliahnya, karena saat itu ia benar-benar sebatang kara sepeninggalan ibu nya.

Sungguh perjalanan ku sangat tidak mudah. Semua harapan dan mimpi yang ku idam-idamkan bersama anak dan keluarga ku kini hanya menjadi kerinduan semata. Hanya mampu menyimpannya sebagai klise berbungkus kerinduan. Kerinduan ku sebgai pemain volley hebat, menyelesaiakn sekolah penyuluh social, menjadi penyuluh social yang mampu menjangkau sanak saudara di pelosok kini hanya sebuah kenangan kerinduan. Terkadang aku berhayal anak-anak ku kelak tidak mengalami nasib yang sama dengan ku, namun apa iya?

Pertanyaan ini selalu muncul, apa mungkin bisa?

Apakah aku mesti mendidik anak ku seperti apa yang aku ingnkan guna memenuhi keinginanku di masa lalu?

Apakah aku harus mendidik anak ku agar menjadi peman volley professional?

Apakah anak ku kelak harus menjadi penyuluh social?

Entahlah, aku tidak mengerti terkadang kerinduan ku akan mimpi di masa lalu menjadi boomerang bagi ku dan membuat ku was-was dalam mendidik anak-anak ku. Aku punya mimpi yang belum tersampaikan. Namun kelak anak ku pun pasti akan punya mimpi nya sendiri. Kemana akan ku labuhkan kerinduan akan mimpi ku ini?

wp-1485181447679.jpg

FLS2N sebagai Wadah Temu Kreasi

Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional tingkat Kabupaten Lombok Timur telah berlangsung sukses. Even ini dilaksanakan tanggal 20-23 April 2017. Even tahunan Dinas Pemuda dan Olahraga ini terselenggara dengan sangat baik. Dan even ini merupakan salah satu wadah silaturahmi dan kumpul karya seni dari instansi pendidikan dari tingkat desa, kecamatan, kabupateh hingga nasional. Even ini pun selalu di nantikan oleh para siswa dan guru/pembina seni di semua tingkatan sekolah.

18010282_1636368583058805_6575458690732135751_n
Sumber : Panitia FSL2N Lombok Timur (Group FB)

Lombok Timur tahun ini dalam penyelenggaraan FLS2N banyak hal baru dan inovatif dalam persiapan hingga terselenggaranya even ini.

  1. Ownership

Tahun ini, pelaksanaan FLS2N menjadi milik siswa, guru seni, pembina seni, sekolah, dinas terkait hingga stakeholder tingkat desa hingga kabupaten. Iya, hal ini terlihat dimana dalam persiapan untuk terlaksananya even ini semua unsur yang terkait menjadi satu. Dan yang lebih menariknya tidak ada ego sectoral dan kepentingan individual yang muncul dalam pelaksanaannya. Ini benar-benar dijadikan even milik bersama yang di landaskan semata-mata untuk pemenuhan Hak Anak (Tumbuh Kembang Anak, Kreativitas, Kreasi, Bermain Anak).

Tidak hanya itu, dalam pelibatan para pakar seni yang sudah handal dalam bidangnya pun di libatkan dan diikut sertakan sebagai penasihat dan sebagai juri dalam berbagai pertunjukan karya. Para ahli ini pun benar-benar menggunakan sumber daya yang ada di lingkup kabupaten Lombok Timur. Pada dasarnya Lpmbok Timur memiliki banyak pakar seni dan budaya yang belum di ketahui keberadaannya yang mana selama ini tertutupi oleh ego sectoral.

  1. Apresiasi Karya

FLS2N tidak hanya dijadikan milik bersama, namun bagi para insan seni baik guru seni, pembina seni hingga sekolah menjadikan even ini bukan semata-mata untuk lomba. Ia dengan rasa memiliki akan terlaksananya even ini, pada penggiat seni meleburkan ego masing-masing dan di gantikan sebagai wujud apresiasi. Dalam pelaksanaan FLS2N ini masing-masing pembina saling meng-Apresiasi Karya, dimana tidak ada lagi rasa bangga hanya pada karya sendiri. Bahkan yang lebih menariknya lagi sebagai wujud saling apresiasi karya, ada beberapa karya yang tidak termasuk dalam daftar mata lomba, namun tetap di ikut sertakan dalam even ini. Selain itu juga, para penggiat seni ini dapat saling memberi masukan atas karya-karya lain nya tanpa embe-embel merendahkan ataupun merendahkan dll. Inilah wujud sikap apresiasi yang baik dan patut di contoh. Karena sangat sulit untuk tetap bersikap apresiatif.

  1. Wadah Kreasi

Karya seni merupakan perpaduan antara kemampuan siswa sebagai pengeksekusi dengan pembina. Jadi kolaborasi antara siswa dengan pembina harus solid untuk menghasilkan karya seni yang indah. Begiu pula dalam pelaksanaan FLS2N, yang mana siswa tidak hanya dijadikan objek melain kan ikut serta dilibatkan dalam persiapan hingga terselenggaranya kegiatan ini. Tidak hanya itu, para pembina mampu mentransformasi pemahamanan bahwa even ini bukan semata untukjadi juara melainkan benar-benar dijadikan wadah temu kreasi. Anak-anak pun merasa nyaman dan tanpa beban dalam menyalurkan bakat dan kreasinya, tanpa ada tekanan dari manapun.

Ini beberapa hal yang sangat menarik yang di perlihatkan dalam penyelenggaraan FLS2N 2017. Dan aku sebagai warga yang sudah bukan anak-anak lagi sangat senang melihat pelaksanaan pagelaran ini. Ini Nampak transparan dan professional. Terlebih menanamkan sikap saling Apresiasi Karya demi kepentingan Anak. Ini membuat aku berdecak kagum. Semoga dengan penyelenggaraan ini, mampu menggerus perspektif masyarakat yang selalu menganggap bahwa penyelenggaraan lomba atau kegiatan lainnya hanya ditujukan pada kalangan tertentu.

Singkat (SetiaHati)

Kita tak pernah tau tentang perjalanan di dunia ini, karena setiap yang hidup akan kembali kepada_NYA. Dan aku pun tak pernah menyangka dapat bertemu sesingkat ini. Aku masih tak percaya, bahwa begitu singkat pertemuan ini bersama seorang perempuan tangguh itu. Begitu banyak orang yang sangat mengagumi dan menyayanginya, namun Alloh swt jauh lebih menyayanginya.

Awal pertemuanku di 2 bulan lalu. Ia adalah isteri dari rekan kerja ku yang baru. Mereka suami isteri yang tidak dapat lepas satu sama lain, mereka telah menjadi 1 jiwa. Hari itu merupakan pertemuan yang sangat berharga bagiku, karena ia membuat ku berdecak kagum dan tak menduga akan apa yang ia dan suaminya lakukan untuk desa dan daerahnya. Hanya dengan pandangan yang sangat sederhana. 

“Aku hanya ingin menjadi jembatan bagi warga di dusun dan desa ku untuk memperoleh informasi yang benar demi mensejahterakan mereka. Begitu banyak permasalahan di dusun dan desa ku, dan begitu banyak program pemerintah untuk permasalahan itu namun kenapa tidak pernah sampai ke desa ku. Aku penasaran kenapa demikian, sehingga akau bersama suami ku mencoba mencari tau ttg hal tsb dan memberanikan diri menghadap ke dinas terkait. Tujuan ku hanya satu, yaitu agar warga di desa ku di perhatikan oleh mereka (pemerintah) karena kami bagian dari mereka yang harus di sejahterakan juga, karena mereka sudah lelah dengan permasalahan yang ada.” Demikianlah ulasan singkatnya saat itu.

Aku pun semakin penasaran dan ku coba mengulik informasi lebih dalam lagi. Namun, ia tidak berbicara panjang lebar, waktu itu ia hanya cuman berkata “ayoq ke rumah main-main sambil melihat perubahan yang terjadi di dusun tempat tinggal kami.” sambil memperlihatkan beberapa foto kegiatannya. 

Aku semakin berdecak kagum. Ia mampu mempromosikan dusun dan desa nya menjadi sasaran bebrapa program pemerintah maupun dari non pemerintah. Diantaranya program Pendewasaan Usia Perkawinan, Posyandu Remaja, PIK KRR, Kewirausahaan hingga Pendidikan Usia Dini. Program-program ini mulai masuk ke desanya sejak 2015 silam, dan kini desa nya menjadi desa percontohan. Ia tidak hanya bekerja bersama suaminya, namun ia mampu memobilisasi warga khususnya pemuda untuk terlibat langsung dalam implemantasi program tsb. Tentunya dengan sukarela tanpa menitik berat kan pada imbalan.

Melalui kerja keras nya, Puskesmas dikecamatan.nya menjadi puskesmas terbaik dan mewakili NTB di tingkat Nasional dalam penerapan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) dengan strategi posyandu remaja yang mendekatkan akses layanan kesehatan bagi remaja. Dalam meminimalisir perkawinan anak, ia mampu mengusung terwujudnya awiq-awiq (peraturan) ttg perkawinan anak. Bahkan ia dan suaminya mendapat predikat dari masyarakat sebagai  Pem-belas (pembelas adalah orang yang meminta pasangan untuk tidak jadi melaksanakan pernikahan). Dalam pernikahan, Lombok santer terkenal dengan adat Merariq yang mana perempuan akan di bawa lari oleh pasangan laki-laki nya (selarian). Dalam hal ini, perempuan tersebut sudah pasti akan menikah, namun jika perempuan tersebut masih di bawah umur atau masih mengenyam pendidikan maka bagi ia dan suaminya pasangan tersebut harus di pisahkan (belas). Karena baginya bahwa perempuan itu harus menyelesaikan pendidikannya terlebih dulu baru menikah, paling tdk sampai usia 21 tahun, kemudian menikah. Dari 9 kasus merariq yang di tangani, ia mampu membekas sebanyak 7 pasang sisanya tdk dapat ia belas karena diluar kemampuannya.

Ia sangat peduli dengan warga di dusun dan di desanya. Di tempat tinggalnya sebagian besar warganya menjadi korban perkawinan anak, yang mana mereka semua kini telah memiliki anak namun tidak memiliki akta kelahiran. Ia pun berusaha melakukan koordinasi dengan dinas terkait supaya anak.anak ini memiliki akte kelahiran sehingga dapat mengakses pendidikan. Berkat usaha dan kegigihannya, kini 90% dari warga desa telah memiliki akta kelahiran. Bahkan anak anak yang orang tuanya korban perkawinan anak yang tidak terurus oleh orang tuanya karena kerja sbg TKI/TKW, ia tampung di rumah sederhananya yang ia sebut sebagai tempat penitipan anak. Tempat penitipan anak ini dapat perhatian dari donatur luar negeri sehingga berwujud laksana PAUD. Yang luar biasa di PAUD yang di bangun ini adalah sistem dan kelas yang di tawarkan. Disini tidak di bagi seperti PAUD umumnya yg berupa pembagian kelas. Namun, di bagi berdasarkan rentang umur yang mana mendapatkan pembinaan berbeda, metode pembelajaran nya berbeda, dan lebih di kenalkan dengan perilaku baik. Tidak hanya itu, para orang tua murid yang hadir juga di bbina dan di beri pemahaman ttg pola asuh anak sesuai usia. Jadi wajar warga pada senang menitipkan anaknya di PAUD ini.

Masih banyak yang ia lakukan di desa dan daerahnya selama 2 tahun ini. Dan bagi ku untuk dapat menjalankan semua itu dengan sukses butuh komitmen yang kuat. Karena pastinya dalam perjalanannya pasti banyak menemukan tantangan, terlebih ini berkaitan dengan orang yang semuanya memiliki pemikiran dan pemahaman sendiri terhadap sesuatu hal. Aku tak mampu menceritakan semuanya.

Bagi ku ialah pejuang kaum nya yang tangguh, yang bukan hanya ngomong doang namun ia bergerak dan membuahkan hasil. Dia adalah sosok Kartini masa kini khususnya di Lombok. Perempuan seperti ini lah yang patut di jadikan tauladan dalam memperjuangkan hak hak kaum di dusun, desa hingga daerahnya. 

Dia adalah “DINA SETIAHATI” Sosok perempuan yang selalu memperjuangkan hak kaum di sekitarnya tanpa Pamrih. Telah kembali kepada sang pencipta pada hari minggu, 16 april 2017.  Ia kembali dengan senyum lebar menghiasi raut wajahnya. Semoga mba Dina kembali dengan Khusnul Khotimah.

Aku masih tak percaya bahwa mba Dina telah tiada. Kami sangat kehilangan sosok seperti mu mba Dina.